Refleksi: Cinta dan Bunga Kemboja 1


Suatu pagi, sebelum mulai bersiap-siap untuk berangkat bekerja, aku melihat bunga-bunga kemboja berserakan di pekarangan rumah. Malam harinya memang hujan turun dengan sangat lebat, dengan angin yang menderu kencang. Aku sempat merasa sedih ketika melihat bunga-bunga itu terserak tanpa daya. Lalu kuamati pohonnya; masih tegak meski tak lagi berhiaskan kuntum-kuntum kemboja.

Kuambil cangkir kopiku, dan duduklah aku di depan kamarku. Setelah sesapan kopi ketiga, aku terhenyak.
Cinta, tak ubahnya kuntum-kuntum bunga kemboja. Begitu indah, begitu cantik, begitu mempesona, menjadikan pohonnya — yang tak semenarik bunganya — indah.

Bila berhiaskan cinta, betapa suatu hubungan akan terlihat indah. Lengkap, sempurna. Namun ada kalanya cinta gugur; entah karena sudah waktunya, atau karena terpaan badai kehidupan. Apakah kemudian berarti pohonnya pun harus mati?

Tentu tidak. Selama pohon itu hidup, masih ada harapan bahwa bunga bisa kembali bersemi. Semuanya ada di tangan kita. Akankah kita merawat pohon itu dengan lebih baik, memberinya asupan nutrisi yang akan membuatnya berbunga kembali, dan melindunginya dari terpaan badai berikutnya? Atau akankah kita diam saja, membiarkannya melapuk sehingga ketika angin meniupnya pelan pun, ia ‘kan jatuh dan rubuh?

Tak perlu khawatir bila cinta tak lagi terasa dalam hubungan yang tengah kita jalani. Pastikan saja bahwa kita dan pasangan kita masih sama-sama berkeinginan untuk menjaga hubungan itu tetap hidup, lalu upayakanlah agar cinta kembali hadir.

Bila hubungan kita diterpa badai, tentu saja, selayaknya bunga-bunga kemboja yang berguguran, cinta pun mungkin akan gugur. Kekecewaan terhadap pasangan kita, atau rasa bersalah kita, menjadi perentang jarak; yang pada akhirnya membuat kita tak bisa merawat hubungan itu bersama-sama.

Tanyakan pada diri kita sendiri: sekuat apa akar kita menopang hubungan ini? Sedalam apa akar kita menghunjam ke dalam tanah?

Pohon itu masih bisa diselamatkan, selama akarnya masih tertanam dalam. Nantinya, toh, bunga-bunga kemboja akan kembali bersemi.

 

Ubud, 15 Januari 2017.


Tinggalkan jejakmu!

One thought on “Refleksi: Cinta dan Bunga Kemboja