Pilihan atau Bukan? 5


Pertanyaan yang tak pernah berhenti dipertanyakan: Apakah menjadi gay itu pilihan?

Penafian: Tulisan ini murni pendapat pribadi saya; saya tidak mewakili siapa pun, lembaga, organisasi, atau gerakan mana pun.

Baru-baru ini, saya membaca cuitan dari beberapa orang yang saya kenal tentang LGBT. Mereka straight, tentu saja.

Singkatnya, dari cuitan tersebut, saya bisa menangkap bahwa mereka masih berpegang pada pemahaman bahwa orientasi seksual adalah pilihan. Implikasinya adalah, karena merupakan pilihan, kita bisa memilih orientasi seksual yang lain.

Jujur saja, saya sama sekali tidak heran mereka bisa berpikir dan berpendapat seperti itu. Saya malah merasa sedih ketika ada yang mengata-ngatai mereka atas pendapat pribadi dan pengalaman mereka masing-masing. Bahkan, beberapa waktu yang lalu, saya pernah iseng bertanya kepada sahabat-sahabat saya waktu kuliah dulu, lewat grup WA. Mereka adalah orang-orang yang sangat menerima dan mendukung orientasi seksual saya, yang membuat saya menduga mereka berpikiran lebih terbuka.

Pertanyaan saya adalah, “Andai salah satu dari anak-anak kalian kelak come out bahwa dia gay atau lesbian, reaksi kalian akan seperti apa?” Jawaban mereka klasik: itu dilarang agama.

Kenal, dekat, bahkan akrab dengan seseorang dari suatu kelompok tertentu memang tidak menjamin kita bisa memahami orang tersebut — apalagi kelompoknya.

Lalu, kalau kita mau kembali ke judul tulisan ini: Pilihan atau Bukan? Sebelum saya bicara tentang itu, saya ingin memberikan sedikit gambaran terlebih dahulu.

Mari kita bicara tentang nasi. Tidak sedikit teman-teman saya yang sudah melakukan perjalanan ke banyak negara di seluruh dunia. Tentu saja di sana mereka harus makan makanan yang ada di negara-negara itu. Terkadang, di sana, nasi tidak ada. Beberapa dari mereka kemudian mencuitkan, “Kangen makan nasi.” Atau juga kangen mie instan kebanggaan Indonesia. Sebagian dengan sengaja membawa mie instan untuk bekal, atau cabai kering kemasan, bahkan kecap merk tertentu.

Mari kita juga bicara tentang kidal. Tidak sedikit dari kita yang terlahir kidal. Sementara di Indonesia, tangan kiri bukan tangan yang baik. Semuanya harus dilakukan menggunakan tangan kanan. Sepupu saya sendiri, terpaksa menulis dan menggambar menggunakan tangan kanan, yang hasilnya tak sebagus kalau ia menggunakan tangan kiri.

Oke. Cukup.

Sekarang, mari kita bicara tentang orientasi seksual. Apa sih orientasi seksual itu?

Sexual orientation refers to an enduring pattern of emotional, romantic and/or sexual attractions to men, women or both sexes. — American Psychological Association

“Orientasi seksual mengacu pada pola ketertarikan yang terus menerus secara emosional, romantis, dan/atau seksual terhadap pria, wanita, atau keduanya,” demikian yang didefinisikan oleh APA.

Perlu diingat di sini bahwa orientasi seksual tidak melulu tentang hubungan seksual.

Apakah ketertarikan ini bisa dihilangkan?

Menurut saya, tidak. Ditekan, bisa. Contoh gampangnya, saya bisa saja menahan diri untuk tidak ikut bernyanyi ketika lagu-lagu Alm. Meggy Z. diputar, hanya karena tidak ingin dicap “anak dangdut”. Padahal saya hafal luar kepala.

Nah, kita jadi bisa menyimpulkan di sini, bahwa orientasi seksual bukanlah pilihan. Ketertarikan itu muncul dengan sendirinya, tanpa bisa dijelaskan dari mana asal-usulnya. Yang bisa dijadikan pilihan adalah: menerima dan menjalaninya, atau menolak dan menekannya.

Seringnya, yang menolak bukanlah orang-orang yang memiliki ketertarikan itu. Yang menolak justru orang-orang di sekitarnya. Si pemilik ketertarikan terpaksa ikut menolak karena ia takut ditolak oleh lingkungannya. Sama halnya seperti sepupu saya yang kidal tadi. Atau saya yang penggila dangdut. Hanya demi diterima oleh masyarakat, kami terpaksa tidak menjadi diri kami sendiri.

Pada akhirnya, kami memilih menolak dan menekan orientasi seksual kami. Mengingkari jati diri kami sendiri.

Tapi bisa, kan? Akhirnya bisa sembuh, kan? Bisa menikah dengan lawan jenis?

Meskipun saya keberatan dengan istilah “sembuh” atau “kembali ke jalan yang benar”, ya, memang bisa. Tapi kami tidak akan bahagia. Kami akan terus berpura-pura. Keluarga kami akan seperti gambar sepupu saya yang digambarnya dengan tangan kanan. Dan kami akan terus merindukan nasi, mie instan, cabe kering kemasan, bahkan kecap manis.

Tunggu dulu. Ada teman saya yang menjadi gay karena sering nongkrong dengan yang gay. Artinya, orientasi seksual dia dipengaruhi oleh lingkungannya, kan? Bukan bawaan lahir?

Saya senang setiap mendengar pertanyaan yang seperti ini. Saya jadi tahu, bahwa masih banyak dari kita yang khusnudzon. Berprasangka baik.

Kalau dari pergaulan dengan yang gay bisa membuat kita yang straight menjadi gay, berarti saya gagal menjadi gay. Sahabat-sahabat straight saya masih straight semua.

Dugaan saya, mereka pada dasarnya sudah memiliki orientasi seksual terhadap sesama jenis sebelum nongkrong dengan para gay. Mereka hanya baru menemukan komunitas yang menerima mereka apa adanya, tempat mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu mengenakan topeng lagi.

Teman saya dilecehkan secara seksual oleh gay, dan kemudian dia menjadi gay. Ada juga yang diperkosa oleh gay, kemudian menjadi gay. Itu gimana?

Dalam kasus ini, kita harus membedakan antara aktivitas seksual dengan orientasi seksual.

Kita ambil contoh kasus di penjara misalnya, ketika semua di dalam sel adalah yang berjenis kelamin sama. Ketika libido sudah tidak tertahankan lagi, mereka bisa saja berhubungan seksual dengan sesama jenis. Apakah ini kemudian berarti mereka menjadi gay? Tidak.

Orientasi seksual, lagi-lagi, adalah pola terus menerus ketertarikan. Bukan situasional. Bisa saja, mereka yang straight, kemudian punya keinginan untuk disodomi lagi. Ini tidak berarti mereka menjadi gay. Mereka hanya ingin merasakan kembali stimulasi di daerah yang sebelumnya tidak pernah distimulasi. Ini hanya keinginan mengulang aktivitas seksual yang pernah memberi mereka kenikmatan.

Kamu bilang, orientasi seksual tidak melulu tentang hubungan seksual. Tapi kenapa gay sepertinya selalu berpikir ke arah sana?

Wah, kalau pertanyaan ini sih, agak menutup sebelah mata, nih. Saya hanya bisa bilang, sebelum lokalisasi-lokalisasi itu ditutup, siapa sajakah para pelanggannya? Berapa banyak

Tujuan saya menulis tentang ini adalah untuk bersumbang saran, untuk mengimbangi pendapat-pendapat yang sudah lebih dulu dinyatakan. Saya sendiri tidak merasa saya memilih orientasi seksual saya — sama seperti para straight yang sudah tahu sejak kecil mereka tertarik pada lawan jenis.

Satu-satunya pilihan yang saya ambil adalah menjadi jujur pada diri saya sendiri, dengan menerima diri saya apa adanya, agar saya tidak perlu lagi hidup dalam kebohongan. Saya tidak mau membohongi keluarga saya, orang tua saya, apalagi pencipta saya.

Saya juga yakin, bahwa Tuhan maha benar. Ia tidak mungkin melakukan kesalahan ketika menciptakan saya yang seperti ini. Tuhan punya alasanNya sendiri, punya tujuan sendiri, yang kita manusia tak akan pernah mampu memahaminya. Karenanya, saya tidaklah lebih rendah daripada yang lainnya.

Silakan berikan komentar pada tulisan saya ini. Satu saja permintaan saya, mari kita pakai akal sehat, kepala dingin, dan hati yang hangat dalam berpendapat.

Ubud, 5 Juli 2017

 

Photo Credit: Ludovic Bertron (https://www.flickr.com/photos/23912576@N05/)


Tinggalkan jejakmu!

5 thoughts on “Pilihan atau Bukan?

  • unyiilz

    dear kak dans,
    aku selalu suka tulisan kamu, meski mungkin ada beberapa yang aku belum mengerti. tapi kalo aku ditanyai tentang, “gimana kalo anak kamu nanti gay?”. aku bahkan ga tau harus jawab apa, dan harus gimana.
    .
    .
    stay the same, kak dans. *hug*

    • daprast Post author

      Terima kasih, Wi.
      Yang kamu harus selalu ingat, anak itu darah dagingmu. Cintai mereka sepenuhnya.

  • Tatiana Romanova Surya

    Bagi saya, cinta kasih sejati melampaui batasan-batasan yang terikat pada gender dan orientasi seksual (mungkin juga dimensi…berhubung saya jatuh cinta kepada sosok Dracula…aum…).

    Meski hingga detik ini teguh dengan keputusan untuk tidak memiliki anak, seandainya suatu hari terjadi sebaliknya, nilai dirinya sebagai manusia tidak akan pernah saya senderkan pada gender dan orientasi seksualnya, dan tangan-tangan saya yang pendek ini akan siap menghantam siapapun yang berani menghakimi panggilan sejatinya sebagai manusia.

    Sama seperti pada konteks ras, bagi saya demikian pula berlaku pada konteks gender dan orientasi seksual: if you’re cool, you’re cool, if you’re an ass, you’re an ass – you are what you do, not what your race, gender, or sexuality is.

    Oh ya satu pet peeve saya: laki-laki straight yang kegeeran dan ketakutan bahwa setiap pria gay pasti akan menyukainya, atau perempuan straight yang kegeeran dan ketakutan bahwa setiap perempuan lesbian pasti akan menyukainya. Dudes, everyone’s got standards, so stop overestimating yerselves aye.

    Everyone deserves to be loved and feel proud of their true selves. LOVE WINS, always!

    – Dari seorang perempuan straight kepada seorang laki-laki gay: I adore your courage and I wish you all the happiness in the world. –